"Revitalisasi Peran Pemuda sebagai Wujud Kontribusi dalam Berkarya bagi Bangsa Indonesia"

Acara Kongres PPIA 2015 yang diadakan pada tanggal 3 dan 4 Juli lalu memang berpuncak pada laporan pertanggung jawaban dari kepengurusan PPIA Pusat yang baru saja demisioner dan penyerahan jabatan kepada ketua umum PPIA Pusat yang baru. Namun, terlepas dari itu Kongres juga turut diwarnai dengan kehadiran dua tamu pembicara berlatar belakang bisnis dan entrepreneurship, Bapak Bahlil Lahadalia, ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2015-2018 dan Bapak Murli Thadani, ketua Australia Indonesia Business Council berkebangsaan Malaysia yang pernah bekerja di Indonesia selama tiga tahun.

Sesi forum dan tanya jawab bersama Bapak Bahlil dan Bapak Murli hanya berjalan singkat. Namun, banyak hal yang dapat hadirin petik dari perbincangan dengan mereka. Berasal dari Kota Jayapura, Bapak Bahlil dengan aksen ketimuran yang masih sesekali terdengar, banyak berbicara mengenai pengalaman dan pendapatnya mengenai pengusaha-pengusaha asal daerah. Beliau juga percaya bahwa modal terbesar sebuah wirausaha adalah keberanian dan relasi dengan orang lain. Menurut Bapak Bahlil, nama baik adalah harta paling berarti dari seorang wirausahawan.

Di sisi lain, Bapak Murli Thadani juga banyak menceritakan pandangannya mengenai Indonesia sebagai lahan bisnis yang sangat berpotensi. Sebagai contoh, Beliau mengkutip riset salah satu perusahaan jasa konsultasi PwC bahwa di tahun 2050, Indonesia diprediksi akan menjadi ekonomi ke-empat terbesar di dunia setelah Cina, Amerika Serikat dan India. Beliau juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu komponen negara terpenting di ASEAN, mengingat jumlah populasi dan kemajuan pertumbuhan ekonominya yang mengesankan. Oleh karena itu, generasi muda Indonesia mempunyai begitu banyak peluang bisnis seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara yang pesat. Menurut Beliau, sebuah negara yang sedang berkembang memerlukan infrastruktur yang memadai agar bisa bertumbuh secara maksimal. Sayangnya, defisit infrastruktur inilah salah satu kendala yang bisa memperlambat atau menghambat laju partumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, ini bisa menjadi sebuah sektor yang dapat dibenahi generasi muda, termasuk mereka yang menjajaki pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu, Beliau menyimpulkan bahwa kontribusi generasi muda ke Tanah Air sangat diperlukan.

 

Setelah perbincangan dengan kedua tamu pembicara usai, Kongres pun dilanjutkan dengan rangkaian acara lainnya. Walaupun berlangsung singkat,  pesan dari kedua tamu pembicara sangat jelas mereka sampaikan. Apa pun caranya, baik itu wirausaha, kepemerintahan, jasa profesional atau pun kreasi, generasi muda adalah pewaris bangsa dan sudah sepatutnya kita mengambil peran dalam membangun Indonesia yang lebih baik di kemudian hari. Bila bukan kita, siapa lagi?

Wawancara Dengan Ketua Kabinet CeMerLang 2015/2016

Nama Mutiasari Mubyl Handaling, atau lebih dikenal dengan sapaan Mutia, sudah tidak asing bagi komunitas PPIA Victoria, baik ranting maupun cabang. Mutia sudah bergabung dalam PPIA sejak 2012 dan kini masih menjabat sebagai Ketua PPIA Victoria 2014/15. Sejak 4 Juli 2015, Mutia mengganti posisi Ahmad Almaududy Amri, Ketua PPIA Pusat 2014/15 yang kini sudah demisioner. Berikut wawancara Tim Hubungan Masyarakat PPIA Victoria bersama Mutia selaku Presiden PPIA Pusat periode 2015-2016.

Halo, Mutia! Kalau boleh tau kenapa Mutia tertarik untuk bergabung dengan PPIA dan sejak kapan?
“Halo juga! Aku pertama kali bergabung PPIA itu sejak volunteer di acara-acara kepengurusan PPIA Deakin 2012-2013, selain bantu memasak, pada akhir kepengurusan aku juga masuk dalam tim redaksi buku kenangan PPIA Deakin. Di tahun selanjutnya aku menjabat menjadi salah satu executive di PPIA Deakin sebagai sekretaris eksternal dan sering volunteer kegiatan-kegiatan PPIA di Victoria. Sejak aku aktif di PPIA, aku merasa sangat banyak manfaat yang aku dapat dan aku juga merasa, melalui PPIA, aku bisa memberikan banyak kontribusi baik untuk teman-teman pelajar Indonesia di Australia, maupun untuk Indonesia.”

Pada debat calon presiden Mutia mengatakan bahwa jika terpilih, Kabinet 2015/16 akan diberi nama Kabinet CeMerLang. Apa makna dari ‘CeMerLang’ dan mengapa Mutia memilih nama tersebut?
“CeMerLang adalah singkatan dari kata Cerdas, Merakyat dan gemiLang.

Cerdas artinya mampu memanfaatkan setiap peluang yang dapat membawa PPIA      menjadi lebih maju. Sigap dan tanggap terhadap permasalahan dalam aspek pendidikan, sosial, kesehatan, lingkungan, dll.

Merakyat artinya kehadiran PPIA Pusat mampu menopang kinerja cabang dan ranting sehingga cabang dan ranting dapat mencapai potensi maksimal masing-masing. Disini tentunya kita juga berharap terciptanya kerjasama dan komunikasi dua arahyang baik bagi Pusat, Cabang dan Ranting.

Gemilang artinya PPIA Pusat akan mengoptimalkan potensi PPIA untuk lebih berprestasi dan memberikan kontribusi yang lebih untuk Indonesia dan komunitas Internasional. PPIA Pusat juga akan menjalin kerjasama dengan organisasi-organisasidan lembaga-lembaga strategis untuk memperluas jaringan di Indonesia, Australia dan dunia Internasional.”

Apa yang ingin Mutia rubah dalam kepimpinan PPIA Pusat selanjutnya? Apa visi dan misi Mutia untuk Kabinet Cemerlang?
Kinerja dari PPIA Kabinet Aktivis sangat patut untuk di acungi jempol, mereka berhasil memasang bench mark atau tolak ukur yang tinggi bagi kepengurusan-kepengurusan selanjutnya. Ini tentunya memudahkan kepengurusan Kabinet Cemerlang untuk mengoptimalkan semua landasan dan sistem yang telah di bentuk.

Visi : Mengoptimalkan performa PPIA yang CeMerLang

Misi:

      Mengembangkan kegiatan yang bersifat akademis dan keilmuan.

      Memperkuat hubungan internal PPIA dengan mengutamakan asas demokrasi.

      Mengoptimalkan potensi PPIA untuk lebih berprestasi dan memberikan kontribusi yang lebih untuk Indonesia dan komunitas Internasional.

 

Sepertinya ada perselisihan antara pelajar S1 dan pelajar tingkat lain (Masters dan Ph.D) dalam PPIA, baik cabang maupun ranting. Menurut Mutia, apa masalahnya dan kira-kira dengan cara apa akan Mutia menyikapi masalah ini? Bagaimana akan Mutia mengharmonisasi hubungan mahasiswa/i Indonesia se-Australia?
 

“Secara pribadi, saya merasa adanya jarak antara mahasiswa bachelor, master dan Ph.D dikarenakan adanya perbedaan minat dan prioritas. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kesenjangan ini kita kecilkan. Salah satu caranya adalah mencari titik tengah dari minat masing-masing pihak, seperti misalnya menyeimbangkan program-program yang bersifat akademik dan hiburan.”

Secara keseluruhan pelajar Indonesia dianggap belum cukup mampu membawa perubahan karena kita pelajar di negara orang lain. Akan tetapi program kerja PPIA, baik pusat maupun cabang, beberapa tahun ini sering berkaitan dengan Indonesia. Bagaimana kita, sebagai pelajar Indonesia, bisa berkontribusi ke Tanah Air walaupun sedang mencari ilmu di negeri tetangga?

“Salah satu hal termudah yang dapat kita lakukan sebagai pelajar Indonesia di negara asing adalah menjadi agen representatif bagi Indonesia. Disini kita dapat membangun kerjasama dan understanding dengan penduduk lokal. Kita juga tentunya dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional melalui program-program kerja PPIA.”
 

 

Winter Night Market

Selain terkenal untuk cuacanya yang labil, Melbourne juga terkenal sebagai ‘melting pot’ budaya-budaya yang berbeda. Hal ini terbukti dari restoran-restoran yang menyuguhi beraneka ragam makanan di Melbourne. Dari Little Italy di Carlton yang kental dengan pengaruh budaya Italia, restoran-restoran Timur Tengah yang meramaikan Sydney Road di Brunswick, dan restoran-restoran lainnya yang mempunyai ciri khas sendiri.

Selain makanan, Melbourne juga terkenal untuk program-program acaranya yang berhasil menarik perhatian para pengunjung turis maupun lokal. Acara-acara tersebut bisa bersifat edukatif seperti pameran seni yang sering digelar di National Gallery of Victoria (NGV), atau acara yang bersifat fun seperti acara Moomba yang sering diselenggarakan pada bulan Maret setiap tahunnya. Kali ini, representatif PPIA Victoria mengunjungi Winter Night Market yang terletak di Queen Victoria Markets.

Sesuai dengan namanya, Winter Night Market hanya beroperasi pada musim dingin di Melbourne, yaitu dari bulan Juni sampai Agustus. Winter Night Market pertama dibuka untuk umum pada tahun 2011 dan kembali diselenggarakan tahun ini pada hari Rabu malam dari pukul 5 – 10 dari tanggal 3 Juni sampai 26 Agustus. Selain makanan, Night Market yang identik dengan pasar malam di Indonesia juga menjual berbagai macam pernak-pernik seperti tas, sepatu, aksesoris, dll. dan juga mempunyai atraksi tersendiri seperti movie screening, live music, dan lain lain. Informasi lanjut mengenai Winter Night Market dapat dilihat di sini. Jika kamu tidak mempunyai rencana untuk pergi malam ini, mengapa tidak mengunjungi Winter Night Market sekalian? 

Indonesian Career Expo - ICarE 2015

Indonesian Career Expo, atau yang lebih dikenal sebagai ICarE, di tahun ini hadir lagi dengan tema "ABLE" yang berarti Able, Build, Live and Emerge. ICarE terdiri dari beberapa rangkaian acara, salah satunya yaitu The Premiere yang berlangsung pada hari Jumat, 15 Mei 2015, di Copland Theatre, University of Melbourne. Terdapat 2 sesi pada acara tersebut, yaitu ajang talkshow dan sharing session bersama seorang moderator dan empat orang panelis.

 The Premiere berhasil menghadirkan tokoh-tokoh ternama Indonesia antara lain Pak Emirsyah Satar, mantan CEO Garuda Indonesia, Ibu Helen Dewi Kirana, desainer label batik NES dan B(i) Batik, Ibu Maya Hasan, pemain harpa profesional dan Ibu Mei Phing Lie yang mewakilkan ayahnya Pak Lie Dharmawan, pendiri rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia DoctorSHARE Foundation. Panel diskusi ini juga dimoderatori oleh Ibu Sri Dean, jurnalis SBS Radio. Dari latar belakang yang berbeda, keempat panelis setuju bahwa passion, semangat berjuang, dan keinginan yang kuat menjadi faktor penting dalam meraih kesuksesan. Mereka juga berpesan untuk membangun dan mengharumkan Indonesia karena generasi mudalah yang akan memimpin bangsa kelak.

Melalui Indonesian Career Expo, PPIA Melbourne University berharap dapat menjembatani hubungan antara para pelajar dan perusahaan-perusahaan yang mencari tenaga kerja lulusan luar negeri dan membantu para mahasiswa dalam memperluas jaringan network. Setelah The Premiere, rangkaian acara dilanjutkan oleh The Expo, Insight Dinner dan The Recruitment yang melibatkan perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan ICarE. Simak berita terbaru mereka di www.indonesiancareerexpo.org

Press Release - PPI Australia himbau Pelajar Indonesia di Australia Sikapi Perkembangan Kasus Bali Nine dengan Tenang dan Proporsional

Melbourne, Australia – Sebagai respon dari eksekusi terpidana mati dua warga Negara Australia yang tergabung dalam Bali Nine, Myuran Syukumaran dan Andrew Chan, sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang masuk ke Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Pusat (PPIA), maka PPIA Pusat menghimbau kepada seluruh pelajar Indonesia di Australia untuk tetap tenang dan proporsional dalam menyikapi hal ini, serta menghormati langkah-langkah diplomasi yang dilakukan oleh kedua negara dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. “Karena ini adalah isu government to government, jadi kita semua serahkan langkah-langkah diplomasi dan hubungan kepada pihak-pihak pemerintah kedua Negara yang kompeten untuk masalah ini,” ujar Ketua Umum PPIA Pusat Ahmad Almaududy Amri (Dudy). Dudy, yang saat ini menempuh studi doktoral di bidang Hukum Internasional di The University of Wollongong, New South Wales, menambahkan bahwa PPIA Pusat juga telah menghimbau para pelajar Indonesia di Australia, melalui berbagai jejaring sosial, untuk tetap mengikuti himbauan yang dikeluarkan oleh Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan dalam kasus Bali Nine tersebut. “Tetap waspada, tidak ikut terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan baik di media atau jejaring sosial, dan memegang teguh tugas utama sebagai pelajar. Jadi sebaiknya kita tetap mengikuti anjuran KBRI dan KJRI,” kata Dudy. Bila ada teman-teman pelajar atau komunitas Indonesia yang mendapat masalah sebagai dampak dari kasus eksekusi terpidana Bali Nine ini, silahkan langsung melapor dan menghubungi kantor KBRI atau KJRI setempat. Terkait dengan perkembangan dan informasi terbaru terhadap hal ini, PPIA Pusat akan mengabarkannya kepada pelajar Indonesia di Australia melalui saluran-saluran komunikasi resmi organisasi, seperti website www.ppi-australia.org, mailing list PPIA Pusat, facebook page @ Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), facebook group @ PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia) dan akun Twitter serta instagram @PPIAustralia.

---

Rilis ini diterbitkan dan disirkulasikan secara resmi oleh Departemen Media dan Komunikasi PPIA Pusat. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Ketua Umum PPIA Sdr. Ahmad Almaududy Amri (+61 429 5678 atau dudy@ppi-australia.org) atau Ketua Departemen Media dan Komunikasi PPIA Sdri. Puteri Komarudin (+61 424 921 213, atau puteri@ppi-australia.org)

http://ppi-australia.org/press-release-ppi-australia-himbau-pelajar-indonesia-di-australia-sikapi-perkembangan-kasus-bali-nine-dengan-tenang-dan-proporsional/